Entahlah di mana yang salah. Aku melihatmu seperti jiwa yang bungkam. Bungkam tanpa ungkapan-ungkapan keinginan. Bukankah memang begitu ketika kau dilanda amarah. Tapi kali ini kenapa? Hati terkasih...terlalu lama kau larut dalam diammu. Entahlah apa yang kau fikirkan dan simpulkan. Hatiku dicipta untuk menjadi perempuan. Yang tetap lemah walaupun mengaku baik-baik saja. Terkadang merasa terbebani dengan rutinitas dan kegiatan yang menguras waktu,tenaga dan pikiran. Terkadang merasa di ujung kelelahan. Dan diammu melengkapinya. Aku pun terlarut dalam detik-detik nafasku sendiri. Dan itu juga menambah kombinasi alasan untuk diammu. Juga diamku. Semakin kau diam...aku juga diam. Bermacam simpulan apa yang ada dibenakmu? Formula apa yang ada di fikirmu? Mungkin hatiku belum terlatih untuk bersandingan dengan perjalanan waktu. Bagaimana aku bisa menemukanmu di tanganku? Duduklah sejenak...ceritakan lagi tentang sebuah hati yang teresapi mimpi.
Read More......Kamis, 17 Juni 2010
Rabu, 09 Juni 2010
Juni...Bunyi-Bunyi Cinta...
Juni...bunyi-bunyi cinta...
cinta...dan cinta..dan selimut kabut hangat di setiap nafas. Seperti dituntun oleh sesuatu yang tak aku pahami sendiri. Hampir enam bulan aku mengenalnya tapi belum bisa mengenalnya. Umarku. Sering terbentur dengan prinsip-prinsip masing-masing. Bagaimanapun, Umarku tetap keras hati, dan Umarku tetap Umarku. Bukan perkara mudah untuk bisa berjalan seiring. Ketika dia ingin dipahami, sama aku juga. Sering memang, kebiasaan-kebiasaanku sendiri tidak berkenan untuknya.
Juni bunyi-bunyi cinta...
hantaran alam pengantar tidur...
di sana senja menjingga
di antara lantunan pujangga dalam nestapanya
masih terdengar genderang kemenangan di sisi lain daun pisang
menuju pagi menjemput embun merebut matahari
--ka--
Langganan:
Postingan (Atom)