Kamis, 26 Agustus 2010

Rindu Ruangku (2)

Rindu melihat purnama dengan sempurna. Di langit yang disulapnya menjadi benderang, seolah aku bisa berdiskusi dengan bintang, semburat putih awan dan juga purnama itu sendiri. Cahayanya seolah ingin menyerap semua rahasia dan ruang yang kumiliki. Mulanya bagaimana aku bisa menyukai purnama, pun aku tak tahu. Hanya segenap perasaan seolah melayang bersama sinar purnama seperti bidadari yang menari dengan selendangnya. Bulan. Bulan. Bulan. Aku merindukan bulan. Bulan, ruangku yang kesekian. Tadi malam aku baca novel Padang Bulan karya Andrea Hirata. Ada cerita ketika dia begitu menyukai komidi putar saat padang bulan. Ya..padang bulan...aku rindu ruang padang bulan. Purnama yang terbit selepas maghrib. Tapi tanpa komidi putar, karena aku tak suka komidi putar. Jangankan menaikinya, baru membayangkannya saja aku sudah mual. Aku rindu ruangku...dimana ada aku dan cahaya purnama selepas maghrib. Kenyataannya sekarang aku tidak bisa menikmati purnama seluas dulu. Pandangan mataku berbayang bila melihat benda yang bercahaya. Mungkin ini yang disebut gangguan mata. Walaupun purnama tak bisa kuterima dengan sempurna, aku tetap merindukannya. Ruangku yang sendiri...bersama secangkir teh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar