Doaku tadi pagi,berharap tidak turun hujan hari ini, supaya semua orang yang beraktifitas di luar ruangan bisa beraktifitas dengan leluasa. Dan kenyataannya, hujan rintik mengiringi langkah banyak orang pagi tadi. Ditambah dengan angin Agustus. Tentang nama angin Agustus, mungkin banyak orang tidak mengerti maksudku, aku menamakannya angin Agustus, karena aku dulu biasa merasakan angin seperti itu paling banyak di bulan Agustus. Angin yang bukan angin sepoi-sepoi, agak kencang tapi tidak membahayakan, dan membawa hawa dingin yang menyegarkan. Ya..hawa dingin yang segar. Angin favoritku. Meskipun cuaca tak mendukung untuk menebarkan diri di bumi, angin Agustus memberiku tenaga untuk berdiri. Memulai hari seperti biasa. Paling tidak, pagi ini tidak mengantuk seperti kemarin-kemarin,karena aku tidur lebih awal dari biasanya. Dan di setiap pagi yang dimulai, selalu ada pertanyaan, "apa yang kau rasakan hari ini? Bahagia? Sedih?" . Jawabannya : sama saja. Apa bedanya bahagia dan sedih. Bahagia hadir sebagai anugerah, sedih juga hadir sebagai anugerah. Bahagia ada akhirnya, sedih juga tak selamanya (jadi teringat lagu Opick ^_^ ) Lalu apa bedanya?
Suasana pagi yang tak bisa cerah, karena Desember selalu kaya hujan. Seperti Jonam, yang selalu kaya dengan kasihnya. Meskipun beberapa hari ini, dia tak begitu bersimpati padaku. Tak apalah. Karena dia diam, aku juga akan diam. Karena (menurut pengalaman), kalau dia diam dia tak akan merespon apapun kalimat dariku. Lebih baik diam, karena diam itu emas. Kemarin, aku coba bicara sedikit, tapi responnya biasa saja, dan aku anggap itu sebagai ungkapan "aku masih malas bicara". Ya sudah...
Aku lupa ini Desember ke berapa. Meski aku lahir di bulan Desember, sesungguhnya aku kurang begitu suka dengan Bulan Desember. Karena selalu ada 'kisah' yang menguras perhatian, bahasa lebay-nya kisah sendu...hehehe...Inilah desember yang kesekian yang menghadirkan 'kisah-kisah' yang tidak nyaman itu. Tepatnya aku sudah lupa, kapan mulainya. Kapan Desember-ku kelabu (seperti lagu ^_^ ). Kekhawatiranku di akhir Nopember pun segera terjawab di awal Desember. Yang menjawab mimpi-mimpi yang aneh di bulan sebelumnya. Ternyata inilah jawabnya.
Walaupun aku terlihat diam, tanpa ekspresi, aku mengkhawatirkan semuanya. Ya Rabb...ijinkan mereka masih lama bersamaku. Berikan waktu lebih banyak lagi. Aku tak akan bisa menghitung seberapa banyak aku bernafas. Aku ingin tetap bernafas untuk paru-paruku. Jantungku ada di mereka...hatiku juga ada di mereka...ijinkan tanganku menjadi penghapus debu-debu di kulit mereka.
*berharap Desember tahun ini ditutup dengan sempurna*
Kamis, 16 Desember 2010
Hujan di Pagi Hari
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar