Ya Rabb...kudu kumaha abdi bingung. Naha sadayana asa cepet,waktu bergulir tanpa mau kompromi.
Pagi-pagi aku datang disambut sebuah bingkisan untuk mengingat hari ulang tahunku. Senyum sumringah..karena memang surprise. Ga nyangka aja. Langsung aku buka dan sungguh menjadi cambuk semangat hari ini. Ada kata pengantar bingkisan yang ditulis dalam 2 lembar kertas. Aku pikir cuma kata pengantar biasa aja. Karena kondisi tidak memungkinkan, aku tunda untuk buka kertas yang dilipat, biarlah sementara si kertas ada di laci. Pekerjaan hari ini benar-benar menyita waktu dan perhatian, sampai terlupa dengan kertas yang tersimpan di laci. Sampai waktunya pulang...ku cek laci siapa tahu ada yang tertinggal. Kertas itu..masih di sana. Untung ga tertinggal. Karena takut dianggap tidak menghargai,walaupun yang ngasih ga bisa lihat,aku baca tulisan di kertas itu di dalam angkot yang remang-remang. Terima kasih doanya, dan beberapa kali si penulis menuliskan kata 'maaf' karena takut menyinggung perasaan katanya. Lembar kedua...mengejutkan...Ya Allah...hadiah apa lagi hari ini..???
Aku hanya perempuan yang biasa saja, tak punya apa-apa. Bagaimana dia bisa bicara seperti itu? apa yang sudah menutupi matanya? Aku perempuan yang amat sangat jauh dari hal-hal baik yang biasa lekat dengan perempuan. Aku bukan perempuan yang lembut, pandai memasak, rajin dengan aktifitas perempuan di rumah. Bahkan baca huruf hijaiyah saja ga sempurna. Bukankah Allah telah berfirman bahwa laki-laki baik-baik untuk perempuan yang baik-baik juga. Lalu,apa dia ga bisa melihat siapa aku sebenarnya, hanya perempuan yang ga bisa apa-apa.
Secara manusiawi,aku tersanjung dengan apa yang dia tulis, tapi aku juga perempuan yang punya cermin. Merasa diri tidak pantas mendampinginya. Walaupun ada hal lain yang membuat pikiran terpecah. Beberapa minggu yang lalu ada juga laki-laki yang baik datang dengan kasih sayangnya walaupun dia tidak berani mengucap untuk menggenapkan separuh sunah Rasul. Dan sempat aku bertanya padanya beberapa kemungkinan, dengan bijak dia menjawab...bahwa semua tergantung kepakau sendiri yang nanti kan menjalani semuanya...jwaban yang manis. Perasaanku bilang...si penulis pun akan bicara sama bila aku bertanya pertanyaan yang sama. Kata pengantar lembar kedua itu sudah sanggup membuatku lemah. Kata-katanya bisa membuat mulutku bungkam.
Ya Rabb...dia memang baik...amat sangat baik..dan terlalu baik...tapi hamba percaya setiap perasaan dari makhluk-Mu adalah kehendak-Mu. Hamba tidak bisa berkata apa-apa. Istikharah hamba belum sempurna, diantara keduanya hamba tersanjung. Ya Allah...tolong hamba...bantu hamba menjawab DUA TANDA TANYA itu...
Rabu, 23 Desember 2009
Kata Pengantar Lembar Kedua
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar